Senin, 29 Juni 2026
Program Studi Pendidikan – Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara, menyelenggarakan kegiatan Praktisi Mengajar pada Mata Kuliah Seni Tari dengan tema “Tari Kreasi Anak Usia Dini”. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual kepada mahasiswa melalui interaksi langsung dengan praktisi yang berpengalaman di bidang seni tari anak usia dini.
Kegiatan ini merupakan implementasi visi Program Studi PG-PAUD FKIP Univet Bantara, yaitu “Mengimplementasikan Program Studi PG-PAUD yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) serta edupreneur berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai kejuangan.” Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi profesional sekaligus memperoleh wawasan praktis yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di lembaga PAUD.

Selain mendukung pencapaian visi program studi, kegiatan ini juga sejalan dengan penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan pembelajaran berpusat pada mahasiswa (student-centered learning) melalui pengalaman belajar autentik. Kehadiran praktisi di kelas menjadi salah satu strategi pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik sehingga mahasiswa memperoleh kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Perkuliahan dibuka oleh dosen pengampu Mata Kuliah Seni Tari, Ibu Arip Prehatiningsih, M.Pd. Pada sambutannya, beliau mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan belajar bersama praktisi secara maksimal. Mahasiswa didorong untuk aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menggali pengalaman yang dimiliki narasumber agar memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pembelajaran seni tari bagi anak usia dini.

Praktisi yang hadir sebagai narasumber adalah Bapak Ardi Kusuma, S.Pd., seorang praktisi PAUD yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan seni tari kreasi untuk anak usia dini. Melalui pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga unsur utama dalam seni tari, yaitu wiraga, wirama, dan wirasa, yang merupakan satu kesatuan dan saling melengkapi dalam menghasilkan sebuah karya tari.
Beliau menjelaskan bahwa wiraga merupakan unsur gerak dalam tari yang meliputi gerak murni (pure movement), yaitu gerakan yang mengutamakan nilai estetika, serta gerak maknawi (gesture/wantah) yang memiliki makna atau pesan tertentu. Sementara itu, wirama tidak hanya berupa iringan musik, tetapi juga dapat berupa hitungan, tepukan, atau suara manusia yang berfungsi sebagai pengatur irama gerak. Adapun wirasa merupakan unsur penghayatan dan ekspresi yang mampu menghidupkan tarian sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penonton.
Pada kesempatan tersebut, Bapak Ardi juga memaparkan tahapan dalam menciptakan sebuah tari kreasi anak usia dini. Proses diawali dengan menentukan tema, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi gerak sesuai tema yang dipilih. Tahap berikutnya adalah improvisasi, yaitu mengembangkan berbagai gerakan hasil eksplorasi menjadi rangkaian gerak yang lebih utuh. Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap kesesuaian gerakan, dan diakhiri dengan komposisi tari, yaitu menyusun keseluruhan rangkaian gerak serta memadukannya dengan musik atau iringan yang sesuai.

Beliau juga memberikan berbagai contoh tema yang dapat dijadikan inspirasi dalam menciptakan tari kreasi anak usia dini, seperti tema flora, fauna, alam dan lingkungan, profesi, permainan tradisional, kepahlawanan, maupun tema-tema lain yang dekat dengan kehidupan anak. Pemilihan tema yang sesuai diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang menarik sekaligus mendukung perkembangan kreativitas anak.
Melalui kegiatan Praktisi Mengajar ini, diharapkan mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konsep, teknik dan proses penciptaan tari kreasi anak usia dini. Melalui pengalaman belajar secara langsung bersama praktisi dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam merancang pembelajaran seni tari yang kreatif, inovatif dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini, sehingga mampu menjadi bekal ketika terjun sebagai pendidik profesional di masa yang akan datang.
